Gangguan Depresi pada Remaja

Posted on

Gangguan Depresi

Dalam perkembangan normal seorang remaja mempunyai kecenderungan untuk mengalami depresi. Blackburn dan Davidson (1994) mengemukakan gejala penderita berdasarkan simptoma psikologis dan biologis. Simptoma psikologis meliputi: suasana hati, seperti kesedihan, kecemasan dan mudah marah; berpikir, seperti sulit berkonsentrasi, lambat dan kacau berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu dan merasa harga dirinya rendah; motivasi, seperti kurang minat belajar,menghindar dari pekerjaan dan sosial, ingin melarikan diri dan ketergantungan tinggi; dan perilaku, seperti lamban, mondar-mandir, menangis, dan mengeluh. Simptoma biologis mencakup: hilangnya nafsu makan, tidur terganggu dan lambat beraktivitas.


Gambaran Klinis

  1. Mood disforik (Labil dan mudah tersinggung) dan afek depresif
    Gejolak mood pada remaja adalah normal, tapi pada kondisi depresi menjadi lebih nyata. Mood yang disforik dan sedih lebih sering tampak. Kecenderungan untuk marah-marah dan perubahan mood meningkat.
  2. Pubertas

Depresi kronis yang dialami sejak masa remaja awal kemungkinan akan mengalami kelambatan pubertas terutama pada depresi yang disertai dengan kehilangan berat badan dan anoreksia. Remaja yang mengalami depresi lebih sulit menerima atau memahami tanda-tanda pubertas yang muncul. Perubahan hormonal yang disertai stres lingkungan, dapat memicu timbulnya depresi yang dalam dan kemungkinan munculnya perilaku bunuh diri. Mimpi basah dan mimpi yang berhubungan dengan incest (hubungan seksual antar anggota keluarga), dapat menambah beban rasa bersalah pada remaja yang depresi. Periode menstruasi pada remaja wanita yang mengalami depresi, mungkin terlambat, tidak teratur, atau disertai dengan timbulnya rasa sakit yang hebat dan perasaan tidak nyaman. Mood yang disforik sering nampak pada periode pramenstrual, Remaja wanita yang mengalami depresi mungkin merasa murung (feeling blue), sedih (down in the dump), menangis tanpa sebab, menjadi sebal hati (sulky and pouty), mengurung diri di kamar, dan lebih banyak tidur.

Perkembangan kognitif

Disorganisasi fungsi kognitif pada remaja yang bersifat sementara, menjadi lebih nyata pada kondisi depresi. Pada remaja awal yang mengalami depresi, terdapat keterlambatan perkembangan proses berpikir abstrak yang biasanya muncul pada usia sekitar 12 tahun. Pada remaja yang lebih tua, kemampuan yang baru diperoleh ini akan menghilang atau menurun. Prestasi sekolah sering terpengaruh bila seorang remaja biasanya mendapat hasil baik di sekolah, tiba-tiba prestasinya menurun, depresi harus dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penyebabnya. Membolos, menunda menyelesaikan tugas, perilaku yang mudah tersinggung didalam kelas, tidak peduli terhadap hasil yang dicapai dan masa depan, dapat merupakan gejala awal dari depresi pada remaja.

Harga Diri

Pada remaja, kondisi depresi memperkuat perasaan rendah diri. Rasa putus asa dan rasa tidak ada yang menolong dirinya makin merendah kan hatga diri. Pada satu saat remaja yang depresi mencoba untuk melawan perasaan rendah dirinya dengan penyangkalan, fantasi, atau menghindari kenyataan realitas dengan menggunakan NAPZA.

Perilaku Antisosial

Membolos, mencuri, berkelahi, sering mengalami kecelakaan, yang terjadi terutama pada remaja yang sebelumnya mempunyai riwayat perilaku yang baik, mungkin merupakan indikasi adanya depresi,

Penyalahgunaan NAPZA

Kebanyakan  remaja yang depresi cenderung menyalahgunakan NAPZA, misalnya ganja, obat-obat yang meningkat mood (amfetamin), yang menurunkan mood (barbiturat, tranquilizer, hipnotika) dan alkohol. Akhir-akhir ini banyak digunakan heroin, kokain dan derivatnya serta halusinogen

Perilaku seksual

Remaja yang mengalami depresi menjadi berperilaku berlebihan dalam masalah seksual atau menjalani pergaulan bebas sebagai tindakan defensif untuk melawan depresinya. Remaja yang mengalami depresi ada kemungkinan kawin muda untuk menghindari konflik dalam keluarga. Seringkali perkawinan ini malah memperkuat depresinya.

Kesehatan fisik

Remaja yang mengalami depresi tampak pucat, lelah dan tidak memancarkan kegembiraan dan kebugaran. Seringkali mereka mempunyai banyak keluhan fisik, seperti sakit kepala, sakit lambung, kurang nafsu makan, dan kehilangan berat badan tanpa adanya penyebab organik. Remaja yang mengalami depresi biasanya tidak mengekspresikan perasaannya secara verbal, namun lebih banyak keluhan fisik yang diutarakan sehingga hal ini biasanya merupakan satu-satunya kondisi yang membawanya datang ke dokter. Sensitivitas dari sang dokter dalam menemukan mood yang disforik ataupun depresi akan dapat mencegah kemungkinan terjadinya bunuh diri pada remaja.

Berat Badan

Penurunan berat badan yang cepat dapat merupakan indikasi adanya depresi. Harga diri yang rendah dan kurangnya perhatian pada perawatan dirinya, atau makan yang berlebihan dapat menyebabkan obesitas, merupakan tanda dari depresi.

Perilaku Bunuh Diri

Remaja yang mengalami depresi mempunyai kerentanan tinggi terhadap bunuh diri. Penelitian di kentucky, Amerika Serikat menyebutkan sekitar 30 % dari mahasiswa tingkat persiapan dan pelajar sekolah menengah atas pernah berpikir serius tentang percobaan bunuh diri dalam satu tahun terakhir saat diteliti 19 % mempunyai rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri  dan 11 % telah mencoba melakukan bunuh diri

Penatalaksanaan

  • Pendekatan biopsikososial digunakan dalam mengobati remaja yang mengalami depresi.
  • Pendekatan ini meliputi psikoterapi (individual, keluarga, kelompok), farnakoterapi, remedial / edukatif, dan pelatihan keterampilan sosial.
  • Adanya obsesi untuk bunuh diri harus diobservasi dengan cermat dan sebaiknya pasien di rawat inap. Faktor lain seperti  kemampuan untuk berfungsi atau stabilitas keluarga merupakan faktor yang harus dipertimbangkan untuk merawat inapkan remaja ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *