Posted by Erna Setiyaningrum - 01-01-2017 04:30:08 - 0 Comments

Definisi dari seks bebas/free sex adalah hubungan seks dengan multi partner. Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti. Seks bebas pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat memperbesar kemungkinan terkena infeksi menular seksual dan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), juga dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab, pada remaja perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan aktif pada sel dalam mulut rahimnya. Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi dengan penggunaan obat-obatan terlarang di kalangan remaja. Sehingga hal ini akan semakin memperparah persoalan yang dihadapi remaja terkait kesehatan reproduksi ini.

Seks bebas berdampak, kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy). Unwanted pregnancy membawa remaja pada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau aborsi.. Hamil dan melahirkan dalam usia remaja merupakan salah satu faktor risiko kehamilan yang tidak jarang membawa kematian ibu. Karena komplikasi kehamilan pada remaja menurut Wibowo (1994) adalah terjadinya perdarahan pada trisemester pertama dan ketiga, anemi dan persalinan kasep. Menurut Affandi (1995) tingkat kematian anak pada ibu usia muda mencapai 2-3 kali dari kematian anak yang ibunya berusia 20-30 tahun. Pada pilihan abors, sering  berisiko terjadinya kematian. 60% dari 1000.000 kejadian aborsi dilakukan oleh remaja dan wanita yang tidak menikah. Dan 70%-80% mereka melakukan aborsi di tempat yang tidak aman (unsafe abortion). Hal ini merupakan salah satu factor penyebab angka kematian ibu yang sampai saat ini kurang mengalami penurunan yang signifikan.

Dampak berikutnya adalah tertularnya penyakit Menular Seksual (PMS) – HIV/AIDS. Para remaja seringkali melakukan hubungan seks yang tidak aman dengan kebiasaan dengan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular PMS/HIV seperti sifilis, gonore, herpes, klamidia, dan AIDS. Dari data yang ada menunjukkan bahwa diantara penderita atau kasus HIV/AIDS 53% berusia antara 15-29 tahun.

Dampak lain dari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah konsekuensi psikologis. Karena remaja yang hamil di luar nikah merupakan aib yang melanggar norma norma agama, dan saksi masyarakat tentunya adalah dikucilkan yang membuat remaja menjadi malu, marah, merasa bersalah, benci dan depresi yang berkepanjangan. Hal ini menyebabkan kondisi sehat secara fisik, sosial, dan mental yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi

Penanggulangan Dampak Seks Bebas/Free Sex

Ada beberapa upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk penanggulangan dampak seks bebas, antara lain:

1. Pendidikan agama dan akhlak.

Pendidikan agama wajib ditanamkan sedini mungkin pada anak. Dengan adanya dasar agama yang kuat dan telah tertanam pada diri anak, maka setidaknya dapat menjadi penyaring (filter) dalam kehidupannya kelak.

2. Pendidikan seks dan reproduksi.

Pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.

3. Bimbingan orang tua.

orang tua adalah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak sedini mungkin saat anak sudah mulai beranjak dewasa. Karena ini merupakan salah satu tindakan preventif agar anak tidak terlibat pergaulan bebas dan  dampak-dampak negatifnya. Pengawasan orang tua terhadap pergaulan anaknya juga sangat penting, yaitu teman bergaul dan apa saja yang mereka lakukan di luar rumah. Dan bila anak sedang menghadapi masalah orang tua wajib membantu mencarikan solusinya.

4. Meningkatkan aktivitas remaja ke dalam program yang produktif.

Melatih dan mendidik para remaja yang telah dipilih untuk menjadi anggota suatu organisasi, misalnya Karang Taruna, Perkumpulan Remaja yang berbasic agama seperti remaja masjid, atau perkumpulan remaja Kristiani, Karya Ilmiah Remaja, Pusat Informasi dan Konseling Pendidikan Reproduksi Remaja (karena remaja biasanya dapat lebih mudah melakukan komunikasi dan membicarakan masalah tersebut antara sesamanya), dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat.

 

Besar harapannya sebagai pelayan kesehatan dan tokoh masyarakat, seorang bidan ikut berperan besar dalam mencegah dan mengatasi berbagai dampak dari seks bebas. Lakukan promotif misalnya dengan penyuluhan penyuluhan, baik secara masal maupun individu, dll.